Mata Kuliah
Fiqih Sosial Fakultas Dakwah Unit 3 JLK
Oleh Kelompok 5
Maria Effi Yana
(410 905 659) Hidayatullah (410 905 677)
Yenizar (410 905 679).
Dosen Pembimbing
Riswadi
A. Pengertian Agama.
Pada
umumnya di Indonesia digunakan istilah “Agama” yang sama artinya dengan sitilah
asing “religie” atau “godsdienst” (Belanda) atau “religion” (Inggris). Istilah
“agama” berasal dari bahasa Sangskerta yang pengertiannya menunjukkan adanya
kepercayaan manusia berdasarkan wahyu dari Tuhan. Dalam arti linguistik kata
agama berasal dari suku kata a dan gama. Kata a berarti tidak dan gama berarti
pergi atau berjalan, sedangkan kaa akhiran a merupakan kata sifat yang menguatkan yang kekal. Jadi sitilah
agama berarti tidak pergi atau tidak
berjalan atau tetap (kekal, internal), sehingga pada umumnya kata agama
mengandung arti hidup yang kekal.[1]
Din dalam bahasa Semit
berarti Undang-undang atau Hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti
menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balsan, kebiasaan. Agama memang membawa
peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi orang. Agama
selanjutnya memang menguasai diri seseorang dan membuat ia tunduk dan patuh
kepada Tuhan dengan menjalankan ajaran-ajaran agamanya. Agama lebih lanjut lagi
membawa kewajiban-kewajiban yang kalau tidak dijalankan oleh seseorang menjadi
hutang baginya. Paham kewajiban dan kepatuhan membawa pula kepada paham
balasan.[2]
Bagi
umat islam pengertian agama sebagai cara atau istilah berhubungan dengan
TuhanNya digunakan istilah Syari’at. Tarikat, Shirathal Mustakim (jalan yang
lurus). Jadi apabila digunakan penafsiran menurut islam, maka diartikan agama
adalah apa yang disyari’atkan Allah dengan perantaraan para Nabi-Nya, yang
berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk untuk kebaikan
hidup manusia di dunia dan di akhirat.
Dengan
demikian maka ciri-ciri agamaadalah terdiri dari:
a. Percaya
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Mengadakan
hubungangn dengan Tuhan dan melakukan upacara (ritus) pemujuaan dan permohonan.
c. Adanya
ajaran tentang ketuhanan.
d. Adanya
sikap hidup yang ditumbuhkan oleh ketiga unsur tersebut, kepercayaan, adanya
hubungan dengan Tuhan dan ajarannya.
Dilihat
dari suber terjadinya agama, maka agama itu dapat dibedakan dalam dua katagori,
yaitu yang dinamakan agama Langit dan agama Bumi. Agama langit bersumber dari
wahyu Tuhan. Misalnya menurut agam
kristen Kitab terakhir yaitu perjanjian Baru adalah wahyu, yang di adalam
Teologi dikatakan bahwa Wahyu adala pengalaman yang berakhir pada adanya cara
yang baru sekali dalam memandang dunia dan kehidupan manusia. Pengalaman yang
diterima berdasarkan Wahyu itu karena tidak dapat terjadi melalui usaha akal
pikiran penelaahan manusia, tapi merupakan pengetahuan terhadap pengetahuan
terhadap kebenaran yang di ilhami. Namun, Wahyu tidak sama dengan Ilhami, oleh
karena Wahyu hanya dapat di terima para Rasul dan Nabi, sedangkan Ilham hanya
di dapat oleh manusia selain Nabi dan Rasul. Yang termasuk dalam agama Langit
adalan Yahudi, Kristen dan Islam yang ciri-cirinya sebagai berikut:[3]
a. Konsep
KeTuhanan monotheis.
b. Disampaikan
oleh Rasul Allah berdasrkan Wahyu Allah
c. Mempunyai
kitab suci yang dibawa Rasul Allah berdasarkan Wahyu Allah.
d. Tidak
berubah dengan perubahan masyarakat penganutnya, bahkan sebaliknya
e. Kebenaran
ajaran dasarnya tahan uji terhadap kritik menurut akal manusia
f. Sistem
merasa dan berpikirnya tidak sama dengan sistem merasa dan berpikir masyarakat
penganutnya.
Agama
Bumi yaitu yang tidak berdasarkan pada Wahyu Ilahi melainkan hasil ciptaan akal
pikiran dan perilaku manusia, oleh karenanya ia disebut juga agama Budaya.
Agama inilahir berdasarkan filsafat masyrakat atau dari para penganjur agama
bersangkutan. Termasuk dalam golongan agama ini dalah diantaranya agama-agama
Hindu, agama Budha, Tao (sumber mutlak seluruh isi alam) yang disamakan dengan
‘Ahura Mazda’ (persi) dan Kong Hu Cu dan berbagai aliran paham agam yang
lainnya. Termasuk pula kelompok budaya adalah kepercayaan-kepercayaan
masyarakat suku-suku sederhana atau masyarakat yang sudah maju yang tidak
berpegang pada kitab suci dan tidak berdasarkan ajaran Rasul-rasul dan
Nabi-nabi.
Ciri-ciri
Agama Bumi adalah:[4]
a. Konsep
Tuhannya tidak monotheis, bahkan tidak jelas.
b. Tidak
disampaikan oleh Rasul Allah sebagai utusan Tuhan.
c. Kitab
sucinya bukan berdasarkan Wahyu Tuhan.
d. Dapat
berubah dengan terjadinya perubahan masyarakat penganutnya.
e. Kebenaran
ajaran dasarnya tidak tahan kritik terhadap akal manusia
f. Sistem
merasa dan berpikirnya sama dengan sistem dan merasa dan berpikir kehidupan
masyarakat penganutnya..
B. Pengertian Budaya dan
Kebudayaan.
Budaya
menurut Kamus Bahasa Indonesia merupakan Pikiran atau akal budi.[5] Kebudayaan
menurut Koentjaraningrat dalam pengantar Antropologi (1986) terdiri atas tujuh
unsur: Bahasa, sitem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan
teknologi, sistem mata pencaharian hidup dan teknologi, sistem religi, dan
kesenian. Dalam perspektif Antropologi Budaya, terdapat beberapa pola
percampuran budaya. Koentjaraningrat mengemukakan berbagai cara masuknya sebuah
kebudayaan ke dalam kebudayaan lain yaitu: difusi, akulturasi, asimilasi, dan
inovasi.
Yang
dimaksud dengan difusi adalah proses penyabran atau migrasi umat manusia yang
dibarengi dengan penyebaran kebudayaan-kebudayaan. Akulturasi adalah proses
sosial di mana suatu kelompok sosial manusia dengan suatu kebudayaan tertentu
dihadapkan dengan kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur
kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan
sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
Sedangkan asimilasi adalah proses yang timbul bila ada: golongan-golongan
manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul langsung
secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaan golongan-golongan
tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas dan juga unsurnya berubah wujud
menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran. Cara penyebaran kebudayaan yang lain
adalah inovasi. Menurut Koentjaraningrat, inovasi adalah proses pembauran
pengguna sumber-sumber alam, energi dan modal. [6]
Dalam
Antropologi Budaya, masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang
menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian, tidak ada masyarakat yang tidak
mempunyai kebudayaan dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai
wadah dan pendukungnya.[7]
C. Hubungan Agama dan
Budaya.
Sangat
sukar untuk memisahkan agama dengan budaya, apalagi untuk menarik batas di
antara keduanya. Kita hanya dapat mengatakan bahwa agama adalah keyakinan
sedangkan budaya adalah hasil akal pikiran dan perilaku manusia. Suatu
keyakinan adalah hal yang mutlak berdasarkan kepercayaan manusia, sedangkan
ilmu pengetahuan merupakan hasil karya manusia berdasarkan kenyataan. Namun
tidak dapat dibantah baik agama atau budaya berpangkal tolak dari adanya
manusia, tidak ada agama tanpa manusia dan karena ada budaya maka ada agama.[8]
Mengapa
sukar memisahkan agama dan budaya, oleh karena agama tidak akan dianut oleh
umatnya tanpa budaya. Wahya Allah yang merupakan petunjuk Tuhan kepada manusia
melalui para Nabi, dapat sampai kepda umatnya, karena ada bahasa, aksara,
kitab, penerangan, sikap tindak perilaku manusia dan sebagainya. Agama tidak
tersebar tanpa budaya, dan budaya menjadi kesasar tanpa agama. Sebaliknya ada
pula agama yang tidak bersumber pada wahyu Allah, melainkan timbul dari
alampikiran manusia itu sendiri. Jadi, ada agama budaya dan ada agama wahyu.
Timbulnya
agama budaya dalam alam pikiran manusia adalah dikarenakan adanya getaran jiwa
yang disebut “Emosi keagamaan” atau “religion emotions”. Menurut
Koentjaraningrat emosi keagamaan ini biasanya pernah dialami setiap manusia,
walaupun getaran emosi itu mungkin hanya berlangsung untuk beberapa detik saja, untuk kemudian
menghilang lagi. Adanya emosi keagamaan itulah yang mendorong orang melakukan
tindakan-tindakan yang bersifat relegi.
Dari
pendapat diatas yang menjadi sebab latar belakang orang berperilaku keagamaan,
percaya kepada yang ghaib atau Maha Ghaib adalah dikarenakan asa dorongan emosi
keagamaan maka timbullah pemikiran, pendapat, perilaku kepercayaan terhadap
sesuatu benda yang dianggap mempunyai kekuatan yang luar bisa dianggap, keramat
atau dikeramatkan dan dianggap suci, serta disayangi atau ditakuti. Jadi dalam
sistem agama budaya itu terdapat unsur-unsur yang dipertahankan dan
dilaksanakan para penganutnya sebagai berikut:
o Memelihara
emosi keagamaannya
o Yakin
dan percaya kepada yang ghaib-ghaib
o Melakukan
acara dan upacara-upacara tertentu
o Mempunyai
sejumlah pengikut yang menta’ati.
Keempat
unsur tersebut saling bertautan satu sama lain, yang kesemuanya berdasarkan
keyakinan dan kepercayaan terhadap hal-hal yng ghaib, yang ditakuti atau
disayangi, yang disebut Tuhan, Dewa-dewa, Roh-roh atau makhluk halus di sekitar
jagat raya ini, baik yang bersifat jahat maupun yang bersifat baik.
Pada
masyarakat yang budayanya masih sederhana apa yang timbul dari emosi keagamaan
dan kepercayaannya, kemudian diajarkan dan diwariskan secara tradisional kepda
anak cucu sahabat kenalan dalam bentuk ungkapan, cerita berirama,
dongeng-dongeng suci dan sebagainya secara lisan sampai menyampai. Pada
masyarakat yang sudah maju budayanya, sudah mengenal aksara, maka
kepercayaan-kepercayaan itu ada yang ditulis dalam bentuk yang masih sederhana,
di atas daun-daunan, pada kulit-kulit kayu atau bambu dan kemudian kertas
sehingga dibukukan, menjadi buku-buku kesusasteraan suci dan disucikan atau dikeramatkan.
Baik
agama Wahyu (samawi) seperti Yahudi, Kristen dan Islam maupun agama bumi atau
agama budaya seperti Budha, Hindu dan berbagai macam aliran paham keagamaan
seperti Tao, Kong Hu Cu, dan berbagai aliran paham keagamaan dan kepercayaan
pada yang ghaib, yang dianut masyarakat sederhana atau masyarakat yang sudah
maju, mamiliki budaya agama, yaitu hasil-hasil pikiran dan perilaku budaya yang
menyangkut keagamaan. Budaya agama tersebut sesuai dengan ajaran agama dan
kepercayaan masing-masing, ada yang muncul dalam benak manusia berdasarkan
kehendak yang diwahyukan Tuhan kepada para nabi, dan ada yang muncul dalam
benak manusia berdasarkan emosi keagamaan pribadi manusia itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar